Mencari?
Dini hari : 3 Februari 2021-Burjo Kuningan Asri, Surakarta
Aku, Andriyan, Oki, Khafid, Miftah, Mas Luqman Nabil
Setelah dari jam 9 hingga jam 12.00 kami berbincang membahas sedikit agenda komisariat di setulus kopi dekat kom, oki kebetulan lapar katanya yang membuat kami 'terjebak' dalam diskusi yang tidak tanggung serunya di burjo kuningan asri, salah satu burjo favorit kami sekedar menghabiskan malam sambil berbincang ria di temani nasi telur sarden double nasinya (yg ini andriyan punya) dan beberapa menu masakan lain. Ada yang beda malam ini dan aku harap ini selalu menjadi ciri khas kita para generasi penerus yang terus haus akan ilmu dan pengetahuan. Yap, malam ini kami membahas sedikit mengenai satu hal yang sangat seksi untuk dibahas bagi sebagian kader HMI yang punya kitab sakti yang menjadi pedoman mereka dimasa itu (baca:NDP).
Singkat cerita, aku membuka pertanyaan ke andriyan " Yan menurutmu salah gak kita mempertanyakan kepercayaan kita terhadap Allah S.W.T? atau singkatnya kita mempertanyakan kenapa kita harus beriman kepadanya?" Sengaja ku kemas pertanyaan ku se general mungkin supaya tidak terlalu terkesan ini forum pencarian tuhan hehehe. Bagaikan umpan lambung didepan gawang, andriyan menyambut pertanyaanku dengan semangat yang menggebu-gebu.
"Gua ga sepakat peng, karna bagi gua keyakinan gua terhadap Allah itu gaperlu gua pertanyakan lagi, kaya wasting time gitu menurut gua, gua udah yakin ya gua percaya " jawab andriyan dengan lugasnya.
Kenapa kaya cerpen atau novel yaa wkwkwk, yaudahla gapapa seenakku aja mau nulis gimana, toh tulisan ini cuma sekedar konsumsi ku dan temen temen ku yang mau membacanya (itupun kalo tau ada tulisan ini hehehe). Aku belum terlalu pandai mengemas tulisan ini untuk bisa terlihat lebih keren dari segi penulisan ataupun lebih ilmiah, yang penting pembicaraan malam ini terekam aja udah bersyukur banget.
Okey lanjut cerita, sebenernya tujuan awal ku memantik diskusi ini adalah untuk menumbuhkan suasana dan iklim pencarian ilmu dan pengetahuan diantara kami, karena jujur, aku iri terhadap bang ahmad wahib beserta teman temannya. cieilah bang, akrab bener yak.. intinya aku cuma pengen tau rasanya hidup kembali seperti mahasiswa dengan segala ke maha-an nya seperti yang seharusnya. Dari sini aku yang baru terpapar pemikiran" ahmad wahib merasa terpukul dengan tingginya tingkat intelektualitas dari seorang mahasiswa di zaman itu. sementara kami, di zaman yang sudah serba ada, informasi dalam genggaman, malah terkesan loyo dan acuh tak acuh terhadap pergolakan pemikiran apapun itu.
Miftah yang sudah LK2 kayanya udah paham ni arahan arahannya, sehingga argumen-argumen beliau hampir sama dengan ku. Maksudnya disini, aku bukan kemudian memancing teman teman untuk mempertanyakan kembali kepercayaannya terhadap sang pencipta, namun untuk mengenal lebih dekat siapa dan bagaimana Kebesaran Allah S.W.T sebisa mungkin dengan rasionalisasi yang memang kita tahu bahwa sejauh apapun akal manusia tidak pernah sampai untuk mendeskripsikan semua bentuk ketuhanan.
"Gabisa lek, gasemua nya bisa dirasionalisasi dalam agama" Andriyan menanggapi kemudian. "Iya bang, contohnya aja misalnya kita wudhu, terus kentut, kok yang dibasuh muka dll lagi bukannya lubang pantat?" ditambah khafid yang sedari awal menyadari dia sepemahaman dengan andriyan.
"Kalau kentut dan wudhu mungkin sudah ada rasionalisasinya fid, kita aja yang kurang belajar, makanya wajib kita pelajari, sama seperti Tuhan, Tuhan memberikan akal bukan berarti kita ga boleh mengenalnya, asumsi ku adalah umat islam hari ini terkungkung dalam pikiran pikiran yang menyebabkan dia takut bahkan untuk mengenal Tuhan, padahal semakin kita mencari kebenaran dalam islam, maka semakin jelas pula lah kebenaran tersebut, tentunya dengan guru yang tepat, karena kata andriyan iman tanpa ilmu kan sama aja gabaik." Aku membalas.
" Sebenarnya kalo ngomongin ini, aku lebih sepakat kaya gini nih, ketika kita sudah memilih untuk mempercayai islam dan mengimani Allah S.W.T berarti kita sudah menerima semua tuntunan dan ajaran islam dari a sampai z. nah sebelum sampai pada tahap ini, kita harusnya mempertanyakan kenapa kita harus memilih Tuhannya Islam, jadi diskusinya disana." Bang Nabil mulai masuk kedalam euforia diskusi yang semakin memanas ini.
"Gini ya lek, semuanya, menurut ku, kepercayaan itu berasal dari hati, dan gabisa dilogikakan, gak semua hal itu bisa kita rasionalisasikan, ada batasan batasan tertentu yang memang kita gabakal bisa sama sekali untuk menyentuhnya dengan logika kita. Nah gua percaya ke Allah dan gaakan gua pertanyakan lagi." Timpal andriyan yang disambut langsung dengan anggukan sepakat sepemahaman dari khafid.
"Dengan mengenal tuhan yan, sebenernya kita bakalan lebih yakin dan percaya. sekarang gini, kalau kita sholat, kita sebenernya ngapain sih?" pertanyaan ku kulontarkan sebagai pemancing disini.
"Ya buat mendapat pahala lah, ada manfaat buat kesehatan, biar ga berdosa" kata andriyan.
"Loh kita ibadah supaya dapat pahala toh?" kusambung pendek.
"Nah, nek menurutku loh, ibadah kui kuncine ikhlas, gak mengharapkan apapun selain kecintaan kita kepada Allah S.W.T" langsung disambung oleh oki dari sudut sana.
"ini dia, gimana caranya bisa cinta kalo gak mengenal? kita bisa kenal dari pertanyaan pertanyaan yang ada dipikiran kan? misalnya kalian bilang cinta sama cewek di ujung simpang 3 uns, tapi kalian ga kenal apa bisa? nah kalo mau kenalan kan harus dimulai dari pertanyaan-pertanyaan kecil didalam benak kalian, misalnya rumahnya dimana, umurnya berapa atau sebagainya. begitu juga jikalau ingin mencintai Allah, maka harus kenal dengan-Nya dimulai dari pertanyaan-pertanyaan kecil yang harus dicari jawabannya" jawabku berharap mendapatkan feedback.
Sebenernya mungkin banyak part yang terlewat karena keterbatasanku sebagai manusia (biasa lupa). Aku hanya coba merangkum sedikit yang mungkin masih bisa kuingat. inipun sangat general, dengan gaya bahasa yang lebih sederhana dan sesuai dengan pemikiranku. Tapi nanti akan kucoba untuk berkoordinasi dengan teman teman untuk melengkapi tulisanku. karena ini juga sudah larut dan waktunya untuk bobo hehehe. aku lanjutin langsung kepada kesimpulan yaa. Oh iya selama forum miftah sudah ngantuk banget, dan terkadang menurunkan semangat forum kalo kata andriyan wkwkwk.
Kami pun menarik kesimpulan atas diskusi malam ini, "Diskusi malam ini sebenernya walaupun tidak dikemas dalam kondisi yang ilmiah atau masih minimnya ilmu kita, ngebuat aku kaya harus lebih dekat dengan Allah, harus terus memperbaiki diri" kata bang Nabil
"Iyaa, tapi tetep inget, kita ini manusia merdeka, apa yang baik di ambil, karena masing-masing punya kebenaran dalam dirinya." dari miftah inii
"Aku juga lebih berfikir untuk mengenal Allah dari diskusi malam ini bang" (Nanti tambahin ya fid yaa, lupa aku)
"Ibadah itu kuncinya ikhlas dan landasan ku beribadah itu ya atas rasa syukur ku terhadap Allah S.W.T atas segala nikmat yang diberikanNya" kata oki mantap.
Sementara andriyan " We are nothing without knowledge " yang kukoreksi, bukan knowledge lek, tapi "We are nothing without Allah".
"Cocokk lekkk" nyengir khas andriyan sambil tersenyum puas.
Sementara aku sendiri kembali merasakan hidup, merasakan gejolak yang berapi-api atas kehausanku atas ilmu dan pengetahuan yang ada. Tanpa kusadari, 3 jam membahas ini sama sekali bukan waktu yang lama, dan aku sangat menikmatinya. Btw, sebagai manusia merdeka, kami tidak sekalipun menyalahkan pendapat siapapun, semua pendapat punya kebenaran walaupun hanya dari yang menyampaikannya. jadi walaupun kita berbeda pemikiran dalam konteks tertentu, kita paham dan sadari inilah keniscayaan yang diberikan Allah S.W.T terhadap kita hambaNya yang selalu menuju kepada kesempurnaan. Wallahu A'lam Bishawab
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus